Gagal Ke Puncak Karena Teror Lelembut Gn. Penanggungan



Kejadian bermula saat 4 pendaki Chandra, Kholis, Fajar, dan Farid berencana untuk mendaki sebuah gunung yang tidak terlalu tinggi di Jawa Timur sebagai penyegaran di tengah padatnya jadwal kuliah mereka. Hari yang ditentukan pun tiba dan berkumpul di titik yang telah ditentukan. Chandra dan Farid merupakan pendaki kawakan yang sudah banyak berkecimpung di pegunungan Jawa Timur, tidak seperti Kholis dan Fajar, pendakian merupakan pengalaman baru bagi mereka. Atas rekomendasi Chandra bagi pendaki pemula, adalah mendaki Gunung Penanggungan karena treknya cukup terjal namun tidak terlalu jauh.

“Eh, nanti kalau sore kita berangkat dari Surabaya, nggak ketemu malam pas pendakian?” tanya Fajar penasaran. “Nggak apa-apa, jejaknya tetap kelihatan kok, yang penting semua bawa senter, kan?” jelas Farid. “Oke,” jawab mereka serempak. “Oke, kita sholat dulu,” Chandra memimpin rombongan.

Mereka tiba di pos pendakian dan mendaftar, semuanya berjalan lancar kecuali menurut Chandra.

"Mas ndukur ramai?" Tanya Chandra terhadap penjaga gerbang pos, yang artinya mas diatas ramai?
"Sepi banget mas" Kata penjaga

Dalam hati Chandra sedikit aneh walaupun pada hari biasa gunung penanggungan tak pernah sepi pengunjung. Perjalanan pun dimulai dari yang awalnya bercanda hingga lelah menerpa mereka yang saling fokus pada jalanan masing masing.

"Kalo mendaki gak ketemu sama pendaki lain apalagi di gunung yang ramai biasanya kita disesatin loh" Farid memecah keheningan.
"Jangan gitu Rid, nanti beneran baru tau rasa" Chandra mengomentari

Fajar dan Kholis hanya terpaku diam, mungkin dia tau maksut Farid adalah menakuti mereka yang baru naik gunung. Dibeberapa kesempatan Farid sengaja berlari mendahului dan menunggu rombongan seperti ingin menunjukan kekuatannya, hingga dia secara tiba-tiba ingin ditengah rombongan. Dia bercerita ketika dia berjalan sendirian seperti mendengar derap langkah kaki prajurit. Tak ada yang percaya dengan pengakuannya.

Sampailah di tempat pos bayangan, memang benar tak ada satupun tenda terlihat. Langsung saja mereka berempat mendirikan tenda dan membuat kopi serta makanan untuk malamnya. Setelah semua siap dan tengah menikmati alam ditengah malam tiba-tiba apa yang diucapkan Farid semua ikut merasakan, suara derap langkah yang terdengar sangat jelas dan kompak.

Keheningan malam membuat suara makin jelas terdengar, Chandra langsung bergegas melihat sekitar dengan senter untuk mencari tau apakah ada rombongan lain yang sedang lewat. Angin tibatiba berhembus kencang yang membuat perasaan dingin sekaligus merinding, dan reflek mereka berempat masuk tenda secara bersamaan dengan meninggalkan segala perkakas yang sebelumnya masih ada di luar tenda.

"Duh, rokok ku ketinggalan diluar" Farid berbica sambil memeriksa barang bawaanya.
"Besok aja diambilnya!! sekarang tidur besok sebelum shubuh kita kan summit ke puncak" kata Chandra.

Tanpa memperdulikan Chandra, Farid langsung bergegas mengambil nya keluar dengan berbekal headlamp yang digenggam. Tak lama kemudian, dia kembali tanpa membawa rokok yang ia cari dan dia diam termenung. Semua tidur secara serentak kecuali Chandra yang tak dapat istirahat sambil mengucap semua doa yang dapat ia lafadzkan.

Ia merasakan ada yang mengamati di sekeliling tenda sambil berputar mengitari tenda, tak jarang tali pasak pun bergetar jelas. Namun dia tak berani keluar untuk memastikan, karena tidak mungkin ada orang apalagi ditengah hembusan angin yang kencang.

Pagi hari tiba, Chandra sengaja tidak membangunkan mereka semua dan rencana untuk summit pun ditunda. Chandra yang kelelahan karena tidak tidur, serta Farid yang mendadak jadi anak pendiam. Berkurangnya 2 orang apalagi yang berpengalaman membuat rencana summit pun akhirnya ditunda dan langsung turun kembali.

Setelah di Pos penjagaan si Farid pun menceritakan kejadian semalam, bahwa diluar tenda tepat diatas kompor berdirilah seorang wanita yang mengenakan pakaian serba putih yang menghadap membelakanginnya hingga membuat ia tak memiliki tenaga untuk berteriak sekalipun.

Sedangkan si Chandra menceritakan semalam, seperti ada layaknya karnaval yang ada diluar tenda lengkap dengan percakapan transaksi jual beli meskipun samar yang membuatnya tak bisa tidur semalaman dan menyarankan untuk turun menunda perjalanan summit, karena sejatinya tujuan akhir dari mendaki gunung ialah untuk pulang dengan selamat.


Kesimpulan:

Seberapa banyak kita suka berada ketempat yang khususnya area yang telah dikenal masyarakat sekitar banyak penunggu yang bukan ranah kita, sebaiknya kita harus tetap menghargai akan keberadaan mereka dan menghormati dia yang tinggal menunggu disana.