CHP: #7

Misteri Pendakian Ke Gunung Semeru


Pertengahan tahun 2015 di bulan Juni, saat saya merasa jenuh dengan hiruk pikuk ibu kota dan memutuskan untuk melakukan perjalanan yang belum pernah saya lakukan sebelumnya, Delson mengajak Mei untuk melakukan perjalanan ke salah satu gunung terbesar di Indonesia, Gunung Semeru (Mahameru). Sebelumnya, Mei memang pernah mendaki Gunung Galunggung di Tasikmalaya saat SMA dan Delson juga pernah mendaki Gunung Semeru pada tahun 2014.

Mereka melakukan pembelian tiket sebulan setelah diskusi dan mulai mengumpulkan barang apa saja yang harus dibawa. Dari Stasiun Senen - Stasiun Malang - Pasar Tumpang - Ranu Pani. Dalam perjalanan yang begitu jauh, tidak ada firasat apa pun. Saat sampai di Ranu Pani dan perlengkapan untuk gunung diperiksa oleh petugas POS, hari sudah sore. Kami tidak diperbolehkan mendaki saat itu karena kabut dan medan yang akan dilalui berupa jurang. 

Sore harinya ternyata tidak hanya kami saja yang terlambat masuk ke area gunung, ada 4 pendaki juga dari Universitas Maranatha Bandung. Hari sudah malam saat itu, dan kami berdua memutuskan untuk bergabung dengan mereka. Mencari tempat untuk tidur dan warung untuk makan. Saat itu tidak jauh dari POS ada rumah warga dan gudang kosong, kami semua bertanya kepada penjaga warung tempat kami bisa menginap saat itu untuk menunggu pendakian besok pagi.

Warga menyarankan kami untuk beristirahat di gudang kosong, karena biasanya gudang itu ditempati oleh para pendaki. Setelah jam makan malam selesai, kami semua beristirahat. Malam itu Mei tertidur terlebih dahulu dan Delson masih mengobrol dengan ketua pendaki dari Universitas Maranatha. Suasana yang tenang, dingin dan sepi membuat pikiranku kosong, dalam hatiku suasana tenang inilah yang selama ini aku cari.

Namun ternyata saat mataku terpejam, ada sosok menyeramkan tepat di depan mata dan hidungku. Yang terlihat hanya kepala dengan wajah hitam dan kapas di hidungnya, tanpa sadar aku menghitung jumlah mereka di depanku. Jumlah mereka ada tiga, seakan-akan ingin masuk ke dalam tubuhku karena berada tepat di depan mataku. Beruntung saat itu Delson langsung membangunkanku dan kulihat yang lainnya sudah terlelap tidur. Delson bertanya apakah ada sesuatu karena tubuhku seperti tegang. Saat itu aku tidak bisa mengungkapkan apa yang terjadi, aku terdiam dan hanya termenung, memastikan semua itu hanya mimpi.

Setelah pendakian selesai 4 hari 3 malam dan kami berdua kembali ke Jakarta, saat itulah saya mulai bercerita tentang kejadian di gudang tempat kami menginap malam itu. Ia tidak percaya dengan hal-hal mistis dan akhirnya itu hanya menjadi cerita sepintas.

Setahun berlalu, kami berdua berencana untuk kembali mendaki Gunung Semeru, karena pendakian sebelumnya tidak mencapai puncak. Kami hanya ingin berdiam di tenda untuk menghabiskan waktu menikmati alam. Juni 2016, kami mengajak 3 teman untuk mendaki dan mereka setuju.

Kali ini kami menggunakan semacam jasa pemandu wisata karena sebelumnya kami banyak menghabiskan waktu menggunakan angkutan umum dari Tumpang menuju Ranu Pani. Sesampainya di Stasiun Malang kami langsung sarapan dan menikmati Soto Malang dan bertemu dengan seorang bapak yang gayanya seperti pendaki. Bapak itu langsung menghampiri karena melihat kami menggunakan gendongan. Ia pun menawarkan diri untuk menginap di rumahnya dengan biaya yang murah. Kami berlima menumpang di mobil Jeep milik bapak itu menuju rumahnya terlebih dahulu, dengan saran agar kami menitipkan barang-barang yang tidak terlalu dibutuhkan seperti baju ganti untuk dibawa pulang nanti ke Jakarta.

Dalam perjalanan kami menjelaskan bahwa kami akan menginap di Gunung Semeru selama 3 hari 2 malam. Saat kami mendaki banyak petugas karena ada seorang WNA asal Swiss yang hilang dan belum ditemukan. Saat kami mendaki, kami merasa seperti berada di tempat yang sama beberapa lama dan tidak menemukan POS berikutnya. Kami beristirahat, berusaha untuk tetap tenang dan berdoa. Pada hari yang satu kami melanjutkan perjalanan ke POS Kalimati untuk mendirikan tenda. Di antara kami berlima hanya satu orang yang bisa sampai puncak tepat waktu sebelum matahari berada di atas kepala. Pada hari kedua seharusnya kami melanjutkan perjalanan ke Ranu Kumbolo, tetapi kami semua sudah kelelahan dan tetap menginap di POS Kalimati. Pada hari ketiga seharusnya kami sudah turun gunung, tetapi kami memutuskan untuk tetap beristirahat di Ranu Kumbolo.


Kondisi di Ranu Kumbolo saat itu sangat ramai dan kami pun mendirikan tenda untuk menginap di sini. Kami mendengar orang bercerita tentang gunung tersebut saat itu karena film 5 cm dan beberapa orang lainnya merupakan anggota perwira yang sedang mencari orang Swiss yang hilang saat pendakian. Saya mencoba menghubungi bapak yang membawa kami ke sini menggunakan ponsel, namun ternyata tidak ada sinyal sama sekali. 

Saat malam tiba dan saya pun tertidur terlebih dahulu di antara mereka. Saat tidur, saya bermimpi dan mimpi ini terasa sangat nyata. Dalam mimpi saya berada di sebuah Pasar Malam yang sangat indah, tenang, terang benderang dengan orang-orang yang terlihat Bahagia, tempatnya di Ranu Kumbolo, lalu dalam mimpi tersebut seperti ada yang berkata "bagaimana kalau kamu menginap di sini saja bersama kami, tempat ini sangat indah kan". Sesaat kemudian saya langsung terbangun dan teringat dengan kejadian setahun yang lalu.

Keesokan harinya, saya langsung meminta mereka untuk berkemas dan turun gunung karena saya merasa ada yang tidak beres, karena saya sudah melakukan perjalanan itu dua kali dan hal yang sama terjadi. Saat kami tiba di Ranu Pani dan melaporkan bahwa kami sudah tidak berada di area gunung lagi, kami bertemu dengan bapak yang mengantar kami. Dari raut wajahnya, beliau terlihat lega dan senang saat melihat kami sudah selesai mendaki. 

Selama perjalanan menggunakan mobil jeepnya, ada rasa ingin sekali menanyakan semua yang terjadi selama dua kali pendakian di tahun 2014 dan 2015. Baru saja saya mau mengatakan sesuatu, bapak itu langsung berkata dengan serius dan menegaskan, "JANGAN KE SINI, MBA, INI WILAYAH MEREKA. KALAU KALIAN BERCERITA DAN MEREKA MENDENGAR, AKAN TERJADI APA PUN PADA KAMI". Saat itu juga, bulu kuduk kami berdiri, seolah tahu apa yang sedang terjadi.

Sesampainya di rumahnya, setelah semua orang beristirahat, makan, dan membersihkan diri, lelaki itu langsung bercerita. Hari ketiga, seharusnya kami sudah selesai mendaki dan sudah berada di Ranu Pani, tetapi tidak ada satupun dari kami yang menghubunginya, ternyata dia mendapat firasat. Malam itu dia mendapat firasat aneh tentang kami dan berdoa malam itu juga. Sementara dalam doanya dia melihat saya diganggu oleh makhluk penunggu di Ranu Kumbolo dan meminta saya untuk dilepaskan saat itu juga.

Saya ceritakan suasana dalam mimpi malam itu dan cerita tahun 2015 yang didatangi oleh tiga sosok pocong. Dia mengatakan bahwa Ranu Kumbolo merupakan daerah kuno dan tepat di depan kami tempat kami mendirikan tenda terdapat gerbang masuk ke daerah tersebut. Dia menjelaskan bahwa bahkan ada seorang pendaki yang sedang tidur di daerah itu dan tubuhnya bergetar di dalam tenda dan ternyata makhluk di sana mengguncang tubuh pendaki tersebut karena dia menolak untuk tinggal bersama mereka.

Ia pun menjelaskan, tak jauh dari area pergudangan tempat kami menginap di Ranu Pane itu terdapat sebuah tempat bagi warga yang belajar ilmu hitam sehingga ketika ada pendatang baru yang tidak dikenal, makhluk tersebut mengganggu pendatang baru tersebut.

Bapak itu hanya berkata tidak perlu bertanya kepada siapa pun apa yang terjadi karena roh-roh itu hanya tertarik pada pendatang baru dan sayalah yang memegang kendali untuk bisa bertahan hidup di dunia saat ini.




Post a Comment

0 Comments